Surabaya ( Gaung media.id) – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Dapil Jawa Timur, Ibu Kondang Kusumaning Ayu, S.Psi., menggelar sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Graha Mahameru Surabaya bagi warga RW. 9, Kelurahan Bendul Merisi, Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya, pada Kamis 11/9/2025.
Acara yang mengusung tema “Empat Pilar MPR RI Sebagai solusi Mensikapi Aksi Massa 2025” ini menghadirkan narasumber pakar, Dr. Agus Dwi Sasono, SE.,M.Si., Ak., dan dimoderatori oleh Surenggono, SE., SH., MM. Dalam sambutan pembukanya, Ibu Kondang Kusumaning Ayu menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh warga dan perangkat kelurahan yang hadir secara antusias.
Ia menekankan, bahwa sosialisasi ini merupakan bagian dari komitmennya untuk mendekatkan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat, khususnya dalam menghadapi dinamika politik dan sosial pada tahun 2025.
“Empat Pilar MPR RI, yaitu Pancasila, Undang-Undang DasarNegara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya konsep abstrak. Ini adalah fondasi yang harus kita hidupkan dalam keseharian untuk menjaga persatuan dan stabilitas bangsa, terutama dalam menyampaiakan aspirasi, menyikapi perbedaan pendapat dan aksi unjuk rasa,” ujarnya.

Sebagai narasumber, Dr. Agus Dwi Sasono, dalam paparannya menyoroti, potensi meningkatnya aksi unjuk rasa pada tahun 2025. Ia menjelaskan bahwa Empat Pilar MPR RI dapat menjadi solusi praktis dan pedoman bagi semua pihak, baik masyarakat, DPR, maupun Pemerintah, dalam merespons berbagai permasalahan bangsa.
“Konflik dan perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, cara kita menyikapinya yang menentukan. Empat Pilar mengajarkan kita untuk selalu mengedepankan musyawarah untuk mufakat, menghormati hukum, menjaga persatuan, dan merangkul kebhinekaan. Demo boleh, tetapiharus damai dan tertib. Pemerintah dan DPR juga harus mendengar aspirasi rakyat dengan hati terbuka. Inilah solusinya ya untuk mencegah anarkisme,” tegas Agus Dwi Sasono.
Acara yang berlangsung interaktif ini mendapat respons positif dari peserta. Salah satu warga, Bapak Yahya, dalam sesi tanyajawab menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya sosialisasiini.
Namun, ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti hanyapada sosialisasi semata.
“Kami sangat berterima kasih atas acara ini. Ilmunya sangat bermanfaat. Tapi kami berharap ini tidak hanya seremonial.Kami ingin ada tindak lanjut, aksi nyata di lapangan bagaimana nilai-nilai ini bisa diterapkan untuk menyelesaikan masalah-masalah konkret yang kami hadapi, seperti masalah pertanahan, sampah atau infrastruktur,” ujar Yahya.
Pendapat senada disampaikan oleh Ibu Nungky, peserta lainnya.Ia menyoroti pentingnya kebebasan berekspresi yang disalurkan dengan cara-cara yang baik.
“Saya setuju bahwa demo tidak dilarang, itu hak rakyat. Tapi sebagai masyarakat, kita juga harus punya kesadaran. Demo harus dilakukan dengan cara yang baik, menyampaikan pendapat tanpa merusak dan tanpa anarkis. Harapannya, dengan memahami Empat Pilar ini, semua pihak bisa lebihbijak,” tutur Nungky.
Selaku moderator dalam acara ini, Surenggono, menutup acara dengan menyimpulkan bahwa pemahaman yang baik terhadap Empat Pilar MPR RI akan menciptakan sinergi antara pemerintah dan rakyat.
“Dengan pondasi yang kuat, kita bisa bersama-sama membangun bangsa ini dengan lebih baik, menyalurkan aspirasi secara konstruktif, dan menyambut tahun 2026 dengan optimisme dan kedamaian,” pungkasnya.
Di akhir acara, peserta juga diajak menyanyikan lagu kebangsaan “Padamu Negeri” bukan sekadar simbol Nasionalisme, tetapi juga pengingat akan tanggung jawab setiap warga negara untuk terus berkomitmen pada Indonesia. Komitmen dalam lagu ini mengajak kita untuk: Mencintai Indonesia dengan menjaga keutuhan NKRI; Berkontribusi positif melalui prestasi, kerja keras, dan sikap pantang menyerah.
Di akhir acara juga dilakukan foto bersama dan penyerahan cenderamata secara simbolis kepada narasumber dan moderator.( Red)
